Rabu, 10 September 2025

Perjalanan Hidup Solikhun

 


Bab 1. Asal-Usul dan Masa Kecil

Solikhun lahir pada 23 Januari 1991 di Brebes, Jawa Tengah, dari pasangan Yasin dan Tapsilah. Ia tumbuh di lingkungan pedesaan yang sarat nilai gotong royong dan keagamaan. Sejak kecil, ia terbiasa membantu orang tua dan mengenal dunia pertanian, khususnya bawang merah. Didikan keras namun penuh kasih sayang ini membentuk karakter pekerja keras, disiplin, dan peduli pada sesama.

Bab 2. Pendidikan Formal dan Nonformal

Perjalanan pendidikan Solikhun dimulai di SD Negeri 04 Banjaratma, dilanjutkan ke SMP Negeri 01 Bulakamba, lalu MA Swasta Ibnu Rusydi Tangerang jurusan IPS.
Selain pendidikan formal, ia juga aktif menimba ilmu agama. Ia belajar di Madrasah Ibtidaiyah Dukuh Sipugur, Madrasah Tsanawiyah Darul Muqomah Desa Siwuluh, menjadi santri kalong di berbagai pesantren seperti Ponpes Assalafiyyah Luwungragi Brebes, Ponpes Darussalam Jatibarang Brebes, dan pernah menjadi abdi dhalem di Ponpes Darul Ulum Jombang.
Kombinasi pendidikan umum dan agama ini menanamkan nilai intelektual dan spiritual yang kuat.

Bab 3. Karier dan Pengabdian Masyarakat

Setelah dewasa, Solikhun dipercaya menjadi Perangkat Desa Banjaratma dengan jabatan Kepala Dusun III (Kadus 3). Di posisi ini, ia aktif memberdayakan masyarakat, terutama menggerakkan kepedulian pada kebersihan lingkungan.
Ia membentuk tim relawan untuk membersihkan drainase pemukiman warga, memprakarsai kegiatan gotong royong, dan memfasilitasi program literasi.
Di tengah kesibukan itu, Solikhun mendirikan Taman Baca Masyarakat “Pelita Harapan” di Dukuh Sipugur RT 003 RW 010 Desa Banjaratma. Taman baca ini menjadi sarana anak-anak dan warga sekitar untuk menumbuhkan minat baca dan memperluas wawasan.

Bab 4. Karya dan Kreativitas

Kecintaannya pada literasi dan seni membuat Solikhun menuangkan ide dalam bentuk film. Pada tahun 2020 ia memproduksi film “Pagar Jurang”, yang tayang di kanal YouTube “Solikhun Documentary.”
Film ini menjadi salah satu bukti bahwa ia bukan hanya penggerak masyarakat, tetapi juga kreator yang menyuarakan nilai-nilai kehidupan.

Bab 5. Kehidupan Pribadi

Solikhun menikah dengan Irma Noviyati. Mereka dikaruniai dua anak: Arum Sekar Maulida dan Ahmad Miftahul Huda. Keluarga menjadi motivasi terbesar baginya untuk terus berjuang memperbaiki keadaan, menghadapi tantangan, dan bangkit dari keterpurukan.
Meski sempat mengalami kesulitan finansial, ia terus berusaha membangun kekuatan mental dan ekonomi dari nol.

Bab 6. Usaha dan Cita-Cita

Selain mengabdi di desa, Solikhun menekuni usaha sampingan seperti menjual spare part Kawasaki Ninja 2 Tak dan mulai belajar bisnis gadget untuk memperluas peluang usaha di desa.
Ia juga sedang belajar bahasa Inggris, mempelajari teknologi, dan berencana mencari peluang kerja di kota maupun luar negeri—termasuk bidang kebersihan lingkungan atau perusahaan yang sejalan dengan minatnya.

Bab 7. Visi dan Misi Kehidupan

Visi Solikhun adalah “Membangun masyarakat yang sadar dan paham literasi, sehingga mampu memahami dan menghargai nilai-nilai kehidupan, serta berkontribusi aktif dalam menciptakan dunia yang lebih bijaksana, adil, dan sejahtera.”
Misi itu ia jalankan melalui:

  • Program literasi dan kegiatan membaca untuk semua usia

  • Integrasi pendidikan literasi di sekolah dan pendidikan informal

  • Meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber informasi

  • Mengajak komunitas berkolaborasi dalam kampanye literasi

  • Memanfaatkan teknologi untuk distribusi konten literasi

  • Mengembangkan keterampilan berpikir kritis

  • Mengedepankan nilai keadilan, kebijaksanaan, dan kesejahteraan dalam setiap aktivitasnya

Bab 8. Hidup Sebagai Petualangan

Bagi Solikhun, hidup adalah petualangan panjang yang penuh pelajaran. Ia percaya bahwa keterpurukan bukan akhir, melainkan awal untuk bangkit. Dengan tekad, kerja keras, dan semangat berbagi, ia melangkah untuk mewujudkan mimpi: membangun masyarakat desa yang cerdas, peduli lingkungan, dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar